الحِقْدُ
(Dendam)
الحِقْدُ هُوَ إِضْمَارُ السُّوْءِ وَالحَرْصِ عَلَى الإِيْذَاءِ
Dendam: Menyembunyikan keburukan, sangat berkeinginan untuk menyakiti
وَسَبَبُهُ : الغَضَبُ وَيَتْبَعُهُ ثَمَانُ خِصَالٍ محُرَّمَةٌ وَهِى حَسَدُ الْـمَحْقُوْدِ عَلَيْهِ، وَالشَّمَاتَةُ بِمُصِيْبَتِهِ، وَهَجْرُهُ وَإِنْ تَوَدَّدَهُ، وَالإِعْرَاضُ عَنْهُ اسْتِصْغَارًا لَهُ، وَالتَّكَلُّمُ فِيْهِ بِالفَحْشِ كَاغْتِيَابِهِ وَإِفْشَاءِ سِرِّهِ، وَمُحَاكَاتُهُ اسْتِهْزَاءً بِهِ، وَإِيْذَاءُهُ بِمَا يُؤْلِمُ بَدَنَهُ، وَمَنْعُهُ حَقَّهُ كَأَنْ لَا يَقْضِيَهُ دَيْنَهُ.
Sebab dendam: Marah, mengiringinya delapan perkara yang diharamkan, yaitu: dengki kepada orang yang di dendaminya, mencela bila terjadi musibah, menjauhi orang yang dia menaruh dendam padanya walau dia memohon belas kasihan, berpaling dan meremehkannya dan mengomonginya dengan keji seperti menggosip dan menyebarkan rahasianya, menceritakannya dengan cara mengolok-olok, menyakiti tubuh dan mencegah haknya seperti tidak membayar hutang kepadanya (setelah berhutang).
وَمِمَّا يَدُلُّ عَلَى ذَمِّ الحَقْدِ قَوْلُ النَّبِي صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْـمُؤْمِنُ لَيْسَ بِحُقُوْدٍ
Dalil bahwa dendam dicela adalah sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam : “Orang mukmin itu bukan pendendam.”
