FASAL 29 : AL-GHURUR



الغُرُورُ

(Tertipu)


الغُرُورُ هُوَ سُكُونُ النَّفْسِ إِلَى مَا يُوَافِقُ الهَوَى وَيَمِيْلُ إِلَيْهِ الطَّبْعُ بِسَبَبِ شُبْهَةٍ شَيْطَانِيَّةٍ

Tertipu adalah tenang jiwa pada sesuatu yang sesuai keinginan (hawa nafsu) dan condongnya tabi’at kepada hal tersebut disebabkan oleh syubhat syaitan (kesamaran fatamorgana syaitan).


وَهُوَ نَوْعَانِ : الأَوَّلُ - غُرُوْرُ أٌهْلِ الكُفْرِ الَّذِيْنَ اشْتَرُوا الحَيَاةَ الدُنْيَا بِالآخِرَةِ

Tertipu ada dua pembagian: pertama, Tertipunya orang-orang kafir yang menukar kehidupan dunia dengan akhirat.


فَمِنْهُمْ مَنْ سَكَنَ إِلَى الدُنْيَا وَزُخْرُفِهَا وَأَنْكَرَ البِعْثَ هُوَ إِحْيَاءُ اللّٰهِ تَعَالَى الخَلْقَ بَعْدَ مَوْتِهِمْ

Diantara mereka yaitu orang yang tenang pada dunia dan hiasannya dan mengingkari hari kebangkitan, yaitu dihidupkan kembali oleh Allah akan makhluk sesudah kematian.


وَمِنْهُمْ مَنِ اغْتَرَّ بِسِيَادَتِهِ فِى الدُّنْيَا فَظَنَّ أَنَّهُ عَلَى فَرْضِ المِيْعَادِ وَالرَّحْمَةِ يَكُوْنُ أَوْلَى بِهِمَا

Dan sebagian daripada mereka itu: Orang-orang yang tertipu dengan kepemimpinan di dunia, dia menyangka bahwa dirinya yang paling baik pada menempati janji dan kasih sayang.


الثَّانِى - غُرُوْرُ العُصَّاةِ مِنَ الْـمُؤْمِنِيْنَ

 Kedua, Tertipunya pelaku maksiat dari kalangan orang mukmin.


فَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ يَعْمَلْ اِغْتِرَارًا بِسَعَةِ عَفْوِ اللّٰهِ تَعَالَى أَوِ اعْتِمَادًا عَلَى طَاعَةِ الْأَبَاءِ أَوْ عَلَى كَثْرَةِ الْعِلْمِ

Diantara mereka adalah orang yang tidak beamal sebab tertipu dengan keluasan  ampunan Allah, atau berpegang atas ketaatan bapaknya, atau pada banyaknya ilmu.


وَلَمْ يَدْرِ الأَوَّلُ أَنَّ الرَغْبَةَ فِى الشَّيْءِ مِنْ غَيْرِ أَخْذِ فِى أَسْبَابِهِ طَمَعٌ مَذْمُوْمٌ

Tidak menyadari oleh golongan pertama (yaitu: yang  tidak beramal) bahwa suka pada sesuatu tanpa mengambil (menjalani) sebab-sebabnya ialah kerakusan tercela.


وَلَمْ يَذْكُرِ الثَّانِى قَوْلَهُ تَعَالَى يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ وَٱخۡشَوۡاْ يَوۡمًا لَّا يَجۡزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِۦ شَيۡ‍ًٔاۚ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ

Dan tiada mengingat oleh golongan yang kedua (yaitu: yang berpegang pada keshalehan orang tua) akan firman Allah:“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Luqman : 33)


وَلَمْ يَتَنَبَّهِ الثَّالِثُ إِلَى أَنَّ العِلْمَ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ

Dan tidak menyadari oleh golongan yang ketiga (yaitu: yang berpegang pada banyaknya pengetahuan) bahwa sesungguhnya ilmu tanpa amal laksana pohon tidak berbuah.


وَمِنْهُمْ مَنِ اغْتَرَّ بِكَثْرَةِ عِبَادَتِهِ فَظَنَّ أَنَّهُ أَحَقُّ بِالعَفْوِ مِنْ غَيْرِهِ وَلَمْ يَدْرِ أَنَّ هَذَا مُذْهِبٌ لِإِخْلَاصِهِ مُغَوِّتٌ لِثَوَابِ أَعْمَالِهِ

Dan diantaranya ada juga orang yang tertipu dengan banyak ibadahnya, dia menyangka lebih berhak mendapat keampunan Allah dibandingkan orang lain, dan dia tidak menyadari bahwa inilah yang melenyapkan keikhlasannya dan pahala amalnya.


وَمِنْهُمْ مَنْ غَرَّتْهُ كَثْرَةُ المَالِ فَظَنَّ أَنَّهُ بِذَلِكَ يَفُوْقُ غَيْرَهُ فَمَالَ إِلَى زُخْرُفِ الدّنْيَا وَنَسِيَ فَضْلَ اللّٰهِ عَلَيْهِ

Dan sebagian lagi orang yang tertipu dengan banyaknya harta, dia menyangka bahwa hartanyalah yang membuatnya lebih tinggi dari orang lain, dia amat menyukai hiasan dunia dan lupa pada karunia Allah.


وَمِنْ مَعَايِبِ الغُرُورِ أَنَّهُ يُوْلِدُ الكِبْرَ الَّذِى سَبَقَ أَنَّهُ يَمْنَعُ صَاحِبَهُ دُخُولُ الجَنَّةِ

Diantara aib tertipu ialah timbulnya rasa sombong yang telah disebutkan pada pembahasan yang telah lewat bahwa orang sombong tidak masuk surga.