UMUM
Nama lengkap beliau adalah Abul Hasan Ali bin Husein bin Ali Al-Mas’udi atau Abul Hasan Ali bin Husein bin Abdulloh Al-Mas’udi. Ia dilahirkan di kota Baghdad-Iraq menjelang akhir abad ke 9 M. Iawafat di Fustat (Mesir) pada tahun 345 H/956 M. Pernyataan ini sama denganpernyataan dalam Ad-Dhahabi dan surat tulisan Al-Mushabi yang menyatakan Al-Mas’udi meninggal dunia pada bulan Jumadil Akhir tahun 345 H. Ia terkenal dengan sebutan Al-Mas’udi. Ia keturunaan Arab yaitu keturunan Abdulloh bin Mas’udi seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dihormati.
Syeikh Al-Mas’udi dilahirkan di kota Baghdad. Pada masa mudanya, dia sangat menguasai ilmu sastra dan juga berbagai ilmu pengetahuaan lainnya. Namun, bidang kajiannya yang hakiki yakni pengembaraannya yang luas di darat dan di laut yang mencakup negeri India hingga lautan Atlantik, dari laut Merah hingga laut Kaspia. Bahkan ada kemungkinan dia telah mengembara sampai ke Cina dan kepulauan Melayu. Setelah menyelesaikan pendidikan pertama yang ia terima dari ayahnya, Al-Mas’udi segera berencana untuk mendalami sejarah, adat istiadat, kebiasaan, dan cara hidup penduduk disetiap negeri. Ia juga banyak mempelajari ajaran Kristen dan Yahudi, serta sejarah Barat dan Timur yang berlatar belakang Kristen dan Yahudi.
Perjalanan Intelektualnya dimulai dengan mengunjungi negeri Iran dan Kirman. Beliau juga pernah bermukim di Ushtukhar, Persia dan dari sana kemudian pergi ke India, mengunjungi Multan dan Al-Manshuro. Bersama para pedagang, ia melanjuutkan pengembaraannya ke Ceylon (Srilanka) dan ia ikut mengarungi laut Cina. Dalam perjalanan pulang ia mengelilingi Samudera Hindia dan kemudian mengunjungi Oman, Zanzibar, pesisir Afrika Timur, Sudan, dan Madagaskar. Pada tahun 926 M ia kembali mengadakaan perjalanan ke beberapa negeri seperti Tiberias (Suriah) dan Palestina, serta tahun 943 M ke Antioch (Suriah). Ia juga mengelilingi negeri-negeri Irak dan Arab Selatan. Sepuluh tahun terakhir hidupnya dilalui di Suriah dan kemudian di Mesir, tempat ia meninggal dunia.
RIHLAH PENDIDIKAN
Syeikh Al-Mas’udi mendapat pendidikan pertama kali langsung dari orang tuanya dan ketika dewasa, ia menjejaki bidang bidang ilmu sejarah dan adat istiadat cara hidup setiap negeri. Al-Mas’udi belajar ilmu hukum seseorang yang bermadzhab Syafi’i yang bernama Ibnu Surayj, dan ia pun pernah belajar kepada al-Juba’i, alNawbakhti, dan Abu Qasim al-Balkhi al-Ka’bi yang merupakan tokoh mu’tazilah. Diceritakan Al-Mas’udi memiliki cita-cita yang tinggi, dimana ia terdorong untuk menggali ilmu-ilmu terutamanya ilmu pelayaran hingga keberbagai plosok negri. Penyebab keinginan yang kuat dalam mendalami ilmu kepelayaran dan menelusuri isi bumi yakni pada adanya hubungan ilmu geografi kebiasaan berlayar masyarakat Arab tidak bisa dipisahkan. Berlayar merupakan tugas asas mereka untuk mengurus hal perdagangan. Bahkan Al-Mas’udi sangat meresapi pada hadist Nabi Saw yakni “tuntutlah ilmu walau sampai sampai negeri china” hingga ia menerapkannya dalam hidupnya terutama dalam menempuh pendidikan. Sebagimana yang dikisahkan bahwa ia pernah melakukan penelusuran ilmiah ke sebagian besar provinsi Persia, Asia Tengah, Armenia, Azerbaijan dan Laut Kaspia daerah, Arabia, Syria, Mesir dan Afrika Utara, serta ia pernah berlayar beberapa kali ke Afrika Timur. Ia melakukan perjalanan ke Lembah Indus dan ke bagian lain dari India, terutama di sepanjang pantai barat. Mas'udi berlayar di Laut Merah, Mediterania, Laut Kaspia, dan Samudra Hindia dilaporkan sejauh daratan China (awal Muslim pedagang dan pelaut masyarakat di Guangzhou).
Kemudian Syeikh Al-Mas’udi juga mengumpulkan pengetahuan mulai dari catatan kuno dan prasasti, arsip dinasti dan administrasi, candi dan reruntuhan, wawancara dengan komunitas agama lokal sarjanawan ilmu pemerintahan. sepanjang hidupnya ia melakukan penelitian terus-menerus, melakukan perjalanan dan menulis. Dia memanfaatkan informasi yang diperoleh dari sumber-sumber yang sebelumnya tidak semua orang perduli untuk menggalinya, melaporkan apa yang dia pelajari dari pedagang, pelaut, orang-orang militer, sejarawan lokal dan pejabat agama (terutama non-Muslim). Mas'udi menerima informasi penting tentang China dari sejarawan-wisatawan Abu Zayd Hasan al-Sīrafī yang dia temui di pantai Teluk Persia. Di Suriah Al-Mas’udi bertemu dengan Leo terkenal Tripoli (dikenal sebagai Ghulam Zurafah), pemberontak Bizantium laksamana Muslim yang armadanya mengancam Konstantinopel di tahun 907 M. Dari Leo, Al-Mas’udi menerima banyak informasi baru tentang Byzantium. Bahkan A. Shiboul mengamati bahwa Al-Mas’udi adalah penulis Muslim yang dikenal untuk menangani secara sistematis mengenai sejarah Bizantium setelah munculnya Islam hingga saat ini. Pada akhirnya ia menghabiskan tahun terakhirnya di Suriah dan Mesir. Bahkan Al-Mas’udi juga tidak hanya mampu di dalam bidang geografi dan pelayaran saja, akan tetapi dia juga telah banyak menyumbangkan berbagai ilmu pada bidangnya masing-masing sepertinya ilmu hadist dan akhlak. Salah satu yang ia sumbangkan dalam bidang akhlak ialah kitab Taisirul Kholaq Fi Ilmi Akhlak, yang bahkan pada saat ini masih eksis di kaji di dalam mendidik peserta didik